0852 488 98504 / 0811 5377 087
callcenter@kariangauterminal.co.id

CARA MENGUKUR MOTIVASI KERJA KARYAWAN SECARA OBJEKTIF

ilustrasi-pengukuran-motivasi-kerja

Setiap perusahaan ingin para karyawannya memiliki motivasi yang baik dalam menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Akan tetapi, banyak perusahaan yang tidak tahu cara mengukur motivasi karyawannya sehingga penilaian motivasi kerja bersifat subjektif. Guna menghindari hasil seperti itu, Anda dapat melakukan beberapa cara di bawah ini.

NILAI 1: INGIN MELAKUKAN PERKERJAAN DENGAN BAIK
Beri nilai 1 untuk karyawan yang ingin melakukan pekerjaan dengan baik dan benar. Karyawan bersangkutan kadang-kadang mengeluhkan inefisiensi atau pemborosan, namun tidak memberikan solusi sehingga tidak ada peningkatan yang spesifik.

NILAI 2: BEKERJA MEMENUHI STANDAR-STANDAR
Beri nilai 2 untuk karyawan yang bekerja untuk memenuhi standar-standar yang ditetapkan manajemen. Ini dapat berupa bekerja sesuai tenggat waktu (deadline) atau mengelola anggaran.

NILAI 3: MEMBUAT UKURAN KEUNGGULAN SENDIRI
Beri nilai 3 untuk karyawan yang membuat ukuran keunggulan sendiri. Dengan kata lain, karyawan bersangkutan menggunakan metode khusus miliknya (di luar metode perusahaan) dalam mengukur hasil-hasil terhadap suatu standar keunggulan.

NILAI 4: MEMBUAT PERUBAHAN UNTUK MENINGKATKAN KINERJA
Beri nilai 4 untuk karyawan yang membuat perubahan-perubahan sepesifik dalam sistem atau metode kerja sendiri untuk meningkatkan kinerja tanpa menetapkan sasaran yang spesifik. Peningkatan kinerja ini antara lain melakukan metode yang lebih baik, lebih cepat, lebih murah, dan atau lebih efisien.

NILAI 5-6: MENETAPKAN SASARAN YANG MENANTANG
Beri nilai 5 atau 6 untuk karyawan yang menetapkan sasaran-saran menantang. Menantang berarti terdapat peluang yang sama (50:50) sehingga sasaran tersebut masih realistis. Selain itu, menantang berarti juga membandingkan sasaran sekarang dengan sasaran yang akan dicapai karyawan bersangkutan. Contoh, seorang karyawan menetapkan sasaran menurunkan biaya produksi sebesar 20%.

NILAI 7-8: MENGANALISIS LABA-BIAYA
Beri nilai 7 atau 8 untuk karyawan yang menganalisis laba-biaya (cost-benefit). Tentu, analisis ini berdasarkan input dan output yang telah dihitung, laba potensial, return on investment (ROI), dan hasil bisnis (busines outcomes).

NILAI 9-10: MENGAMBIL RISIKO YANG TELAH DIPERHITUNGKAN
Beri nilai 9 atau 10 untuk karyawan yang mengambil risiko yang telah diperhitungkan. Mengambil risiko ini dapat berupa mencoba sesuatu yang baru (misalnya metode baru), menggunakan sumber daya atau waktu yang terbatas, mencapai sasaran yang menantang, dan atau mendorong bawahan untuk mengambil risiko.

Dengan mengetahui tujuh cara mengukur motivasi kerja karyawan di atas, semoga Anda tidak bingung lagi menilai motivasi bawahan Anda. Dengan demikian, penilaian motivasi kinerja lebih objektif sehingga tidak mengganggu penilaian kinerja karyawan secara keseluruhan. (Sumber gambar: Windwärts Energie)

Sumber : http://www.duniakaryawan.com


Post terkait