0852 488 98504 / 0811 5377 087
callcenter@kariangauterminal.co.id

DIRECT CALL DIMATANGKAN, EKSPORTIR TATA PRODUKSI

Ilustrasi. (sumber : http://splash247.com)

BALIKPAPAN— Pembukaan rute pelayaran langsung internasional atau international direct call dari Kota Balikpapan yang semula direncanakan dimulai pada Mei ditunda menjadi Juni untuk mematangkan kesiapan pihak pelayaran dan eksportir.

Direktur Utama PT Pelindo (Persero) IV Doso Agung me ngatakan alasan penundaan itu karena adanya sejumlah hal yang dinilai belum siap. “Eksportir belum siap, terutama soal perizinannya dan lain-lain. Selama ini kan eksportir mengurusnya dari rute Surabaya dan Singapura, sedangkan direct call ini akan lang sung ke negara tujuan. Jadi (memang) tidak sederhana persiapannya. Eksportir butuh (tambahan waktu) menata produksinya,” ujarnya Senin (23/5/2016).

Dia mengatakan pihak pelayaran juga dinilai belum siap dalam hal investasi. Pelayaran langsung internasional membutuhkan investasi yang besar, sehingga para pelaku usaha pelayaran perlu mencari dana sebelum akhirnya dapat merealisasikan direct call dari Kalimantan Timur melalui pelabuhan peti kemas yang dikelola oleh PT Kaltim Kariangau Terminal. Doso berharap pemerintah daerah, asosiasi, dan pemegang kepentingan lainnya dapat bersinergi dengan kompak, cepat dan saling dukung agar rencana ini dapat segera direalisasikan dengan baik. Salah satunya adalah persiapan pembukaan direct call dari Makassar yang didukung dengan cepat oleh berbagai pihak. “Pelindo hanya menyiapkan fasilitasnya, yang memerlukan rute ini kan pemegang kepentingan. Kami tidak bisa bekerja sendirian. Perlu dukungan ekstra kuat dari pemerintah daerah, asosiasi terkait, dan pihak terkait lainnya,” jelas nya.

Selain itu, sosialisasi mengenai manfaat dan keuntungan direct call dari Kalimantan Timur juga harus gencar dilakukan. Selama ini, Doso mengakui memang belum ada sosialisasi secara maksimal yang menyeluruh kepada para semua pihak terkait.

 

TERGANTUNG VOLUME

Keberhasilan rencana ini, tegasnya, akan sangat bergantung pada volume komoditas yang cukup besar untuk diekspor langsung ke luar negeri. Sementara volume ekspor dari Balik papan dinilai tidak cukup untuk dikirim langsung dengan direct call sehingga saat ini masih dibutuhkan tambahan volume ekspor dari daerah-daerah lain di Kalimantan Timur. Dalam hal ini, pemerintah daerah dan instansi terkait lainnya berperan besar dalam mencari komoditas layak ekspor di daerahnya masing-masing.

Doso optimistis apabila semua pihak mengetahui manfaat direct call, maka pasti ada jalan untuk merealisasikannya. “Di Makassar itu ekspor direct call perdananya hanya 40 kontainer, sekarang sudah 200 kontainer per minggunya. Sementara itu dari Kaltim ada 30—40 kontainer”. Artinya, sebut Doso, “memaksa direct call dibuka maka hanya sebesar itu volume yang didapat”.

Lebih lanjut, dia mendorong terbangunnya interkonektivitas antardaerah agar volume ekspor dapat diperbesar. Pembukaan direct call sejauh ini diyakini dapat memangkas waktu tempuh pengiriman dari yang semula memerlukan waktu 30 hari menjadi 14 hari. Dengan demikian, biaya logistik dapat berkurang hingga 40%.

Dia berpendapat Kalimantan Timur yang memiliki banyak komoditas layak ekspor yang dinilai potensial. Salah satu komoditas yang diminati oleh pembeli dari China adalah cangkang sawit. Selain itu, gas alam cair dari Bontang juga disebut sebagai sa lah satu komoditas potensial ekspor. “Kami bentuk tim percepatan direct call dengan pemerintah daerah. Gubernur Kaltim sudah menginstruksikan agar dinas terkait ikut menyiapkan direct call. Lebih baik pembukaan rutenya ditunda, dari pada buruburu tapi (malah) tidak berjalan efektif,” tutup Doso.

Sumber : http://koran.bisnis.com/ (24/05/2016)


Post terkait